6 Desember 2017 - 16:16:43 WIB | Dilihat 62 kali0 komentar

Tak Lagi Sama Namun Tidak Berubah

Jamu “Gendong” Moderen Tetap jaga Kualitas ?

Gambar Tak Lagi Sama Namun Tidak Berubah
Foto Net/Ilustrasi
PELAKU usaha penjual jamu mengalami perkembangan dan inovasi. Dahulu jamu dijual dengan cara digendong menggunakan sarung, penjualnya wanita dengan menggunakan pakaian bermodel semi kebaya. Saat itu, jamu olahan diyakini masyarakat sangat higenis dan bersih. Keyakinannya saat itu, jamu diolah dengan bahan alami dan tradisional. Selain itu mengkedepankan kualitas dan pelayanan ramah.  Tentunya masih belum terkontaminasi dengan kemudahan yang didapatkan dari dunia maya. Namun itu dulu, ya kira-kira di tahun 2000 kebawah. Bagaimana ya saat ini ?
 
 
Radio KPFM 101 - Palangka Raya - Saat itu sore hari di halaman rumah, terdengar suara motor dan teriakan sorang pelaku usaha penjual jamu. Wanita dengan menggendarai sepeda motor bebek yang telah dimodifikasi pada kursi belakangnya. Dibuat bersayap yang digunakan tempat menaruh botolan jamu jualannya.
 
Penjual itu tepatnya disebut bibi jamu keliling menggunakan motor. Tidak lagi disebut penjual jamu gendong. Walau demikian, mereka sama-sama menjual jamu. Tapi apakan jamu yang dijualnya memiliki kualitas yang sama ?
 
Melalui perbincangan, penjual jamu yang kerap melewati jalan Rajawali, Kota Palangka Raya mengatakan bahwa jamu yang dijulanya adalah jamu kencur. “Jamu beras kencur mas. Beras direndam tiga jam semalaman kemudian kencur, jahe, gula merah, gula batu atau gula pasir (gula batu,red), asam jawa yang direndam dengan air panas. Kemudian ditambah garam dan sedikit air,” begitulah racikan  jamu yang diceritakannya.
 
Bibi penjual beras itu pun menyakinkan bahwa olahan rumahan yang dijualnya bersih dan higenis. Sekali minum dan tidak menggunakan barang pengawet. Selain jamu dalam botolan, dijual juga jamu kemasan. Ada yang bermerek dan ada yang polos.
 
“Saya jualkan saja, bukan membuatnya. Semua jamu (kemasan) ada manfaatnya pak,” kata bibi yang juga menjual cemilan berupa kacang, sate telor puyuh, kerupuk dan lainnya.
 
Berdasarkan pengalaman singkat itu, menjadi bahan yang menarik untuk didiskusikan. Khususnya terkait standar mutu dari jamu olahan tersebut. Menuju dinas terkait, bertemu dengan Kepala BPOM di Palangka Raya, Trikoranti Mustikawati pada Selasa (05/12) pukul 14.25 WIB.
 
“Beberapa waktu lalu, BPOM menjadi pemateri dalam kegiatan dinas kesehatan kota Palangka Raya. Memberikan sosialisasi kepada pelaku usaha industri rumahan, termaksud penjual jamu tradisional. Kegiatan itu menyampaikan agar mereka tetap menjaga kesehatan produknya. Paling utama tidak menggunakan bahan berbahaya seperti bahan kimia yang dapat merusak kesehatan. Untuk produk jamu olahannya bukan produk yang harus didaftarkan atau mendapat proses di BPOM. Karena jamu itu (gendong atau keliling,red) minuman tradisional yang sekali habis (bukan produk kemasan),” penjelasan ibu Trikoranti.
 
Bagi bibi penjual jamu jaman “now”, tidak lagi menggendong jamunya dan berpakaian bermodel kebaya, kepala BPOM ini mengaharapkan pelaku usaha untuk tidak menjual jamu kemasan atau memiliki bermerek dengan sembarangan. Harus produk  memiliki ijin dari  Dinas Kesehatan maupun BPOM.
 
“Penjual jamu ini tetap kita lakukan pembinaan dan diharpakan menjaga kehigenisan jumu olahannya. Untuk jamu kemasan yang memiliki brand (Merek,red), wajib melalui mekanisme di badan BPOM serta dinas terkait seperti kesehatan,” tutupnya.
 
Dengan demikian, penjual masa jamu gendong hingga kini ke jamu keliling, meskipun tidak harus melalui proses di BPOM, tepi diharapkan untuk menjaga kualitas khusunya kebersihan. Mulai dari bahan yang digunakan, tidak menggunakan bahan pengawet atau kimia, dijaga kesehatannya. (TimKPFM)
Beri komentar
0 KOMENTAR.

Komentar untuk "Tak Lagi Sama Namun Tidak Berubah"

(harus diisi)