13 Desember 2017 - 10:43:17 WIB | Dilihat 45 kali0 komentar

Solusi Soal Peti, Mari Duduk Bersama.

Gambar Solusi Soal Peti, Mari Duduk Bersama.
Suasana Diskusi Hangat Antara Mahasiswa Bersama Narasumber, Moses AP SE di Aula KNPI Provinsi Kalimantan Tengah.
Masih adanya aktivitas penambangan emas tanpa ijin (peti, red) yang berlangsung di sejumlah kabupaten di Kalimantan Tengah (Kalteng) tampaknya mendapat perhatian serius dari semua pihak, termasuk pula dari  kalangan mahasiwa dan pemuda di Kalteng. Keseriusan tersebut diwujudkan ke dalam sebuah diskusi panel yang dikemas secara ringan dengan nuansa santai. Kegiatan ini mengikutsertakan sejumlah perwakilan mahasiswa dan organisasi kepemudaan (okp) yang ada di Kalteng.
 
KPFM101, Palangka Raya - Aktivitas penambangan tidak hanya dilakukan oleh pihak perusahaan berskala besar, namun ada juga yang dilakukan oleh masyarakat secara bersama-sama (penambangan rakyat, red). Kegiatan penambangan rakyat lebih bersifat sederhana dan menggunakan peralatan dan mesin seadanya.
Bahkan tidak sedikit masyarakat yang beranggapan serta mengaku bahwa penambangan rakyat ini merupakan salah satu cara  meningkatan taraf hidup dan perekonomian sekaligus pula sebagai upaya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada yang menyebutkan juga bahwa Aktivitas itu dilakukan sudah lama dan berkesinambungan secara turun menurun.
 
Namun dilemanya adalah pekerjaan yang memang diketahui secara pasti telah melanggar Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Kalteng No. 8 Tahun 2002 tentang pengelolaan pertambangan Mengingat penggunaan peralatan seadanya dan campuran larutan air raksa (mercuri, red)  maka akan sangat berimbas ke lingkungan sekitarnya, sebab dampak dari akibat aktivitas penambangan tersebut dapat merusak lingkungan dan menurunkan kualitas air serta merusak ekosistem sekitar.
 
Untuk menjawab persoalan tersebut, Tunas Borneo Provinsi Kalteng bekerjasama dengan Himpunan Mahasiwa Islam Indonesia (HMI) Korkom UPR melaksanakan kegiatan diskusi bersama dengan sejumlah organisasi kemahasiwaan yang ada di Kalteng dengan mengangkat tema ”Mencari Solusi Dari Permasalahan Tambang Tanpa Ijin". Kegiatan dilaksanakan di aula pemuda kesekretariatan KNPI Kalteng,  Jalan Tjilik Riwut Km 1,5 Kota Palangka Raya, sabtu (09/12).
 
OKP yang hadir dalam diskusi tersebut diantranya, HMI Korkom UPR, Hima Pulang Pisau, Hima Kotim, Hima Kobar, Pemuda Pancasila Kokam Pemuda Muhammadiyah, KNPI Kota Palangka Raya, BEM UPR, dan OKP Lainnya.
 
"Jika kegiatan penambangan emas yang dilakukan oleh masyarakat dilarang maka hendaknya diimbangi dengan sebuah solusi seperti memberikan pemberdayaan dan pembinaan serta pelatihan tentang tata kelola penambangan yang dianggap benar atau legal," ujar Yosefri seusai kegiatan diskusi berlangsung, Sabtu (09/12).
 
Sambungnya, akan menambah rumit ketika pemda melalui aparat berwajib menutup sampai menghentikan kegiatan masyarakat dengan alasan menyalahi aturan yang berlaku. Jika itu dilakukan maka aktivitas perekonomian masyarakat akan terhenti dan mata pencaharian masyarakat pun akan macet.
 
Sementara itu, Ketua Satuan Mahasiswa (Satma) Pemuda Pancasila Provinsi Kalteng Muhammad Rian menuturkan, ada dua hal yang paling mendasari persoalan tersebut, yakni pertama  transformasi informasi dan sosialisasi terkait pengelolaan tambang secara benar dari pemda ke masyarakat dinilai masih kurang  maksimal.
 
Kemudian yang kedua, karena kurang transformasi informasi maka masyarakat jadi tidak memahami serta mengerti tentang pengelolaan penambangan emas tradisional. "Akibat tidak tahu maka masyarakat jadi kurang mengerti seperti apa dan bagaimana cara supaya masyarakat bisa mengurus perizinannya," kata Rian.
 
Dirinya mengharapkan kedepan pemerintah daerah dapat memberikan sosialisasi terkait proses perizinan penambangan rakyat agar dapat dipahami dan diikuti oleh masyarakat yang ada di pedesaan. Selain itu, pemda dapat memberikan solusi alternatif mata pencaharian lainnnya seperti sektor pertanian dan perkebunan. (Selesai)
 
Beri komentar
0 KOMENTAR.

Komentar untuk "Solusi Soal Peti, Mari Duduk Bersama."

(harus diisi)